BAB I
TINJAUAN TEORITIS
A.
DEFINISI
HEMIPARESIS
Hemiparesis adalah suatu penyakit sindrom
klinis yang awal timbulnya mendadak , progesif cepat, berupa defisit
neurologis yang berlangsung 24 jam atau lebih langsung menimbulkan kematian dan disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak
non traumatic.
Faktor resiko pada
hemiparesis yaitu :
Faktor yang tidak dapat
diubah : usia, jenis kelamin,pria,ras,riwayat keluarga,riwayatstroke,riwayat
jantung koroner,fibrilasi antrium dan heterozigot atau hemosistinuria.
Faktor yang dapat diubah
: hipertensi, DM, merokok, penyalahgunaan obat dan alkohol, kontrasepsi oral,
dan hematrokrit meningkat.
Manifestasi klinis pada
hemiparesis akut dapat berupa :
• Kelumpuhan
wajah anggota badan
• Gangguan
sensabilitas pada satu atau lebih anggota badan
• Perubahan
mendadak status mental
• Ataksia
• Vertigo
,mual,dan muntah
STROKE
Stroke adalah adanya tanda-tanda klinik yang
berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal/ global dengan gejala-gejala
yang berlangsung selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan kematian tanpa
adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler (WHO, 1997). Stroke
merupakan suatu gangguan neurologik fokal yang dapat timbul sekunder dari suatu
proses patologi pada pembuluh darah serebral, misalnya trombosis, embolus,
ruptura dinding pembuluh atau penyakit vascular dasar, misalnya
arterosklerosis, artritis, trauma, aneurisma dan kelainan perkembangan (Sylvia
A. Price, 1995).
Klasifikasi Stroke dibagi menjadi 2 yaitu :
Stroke iskemik yaitu
tersumbatnya pembuluh darah yang menyebabkan aliran darah ke otak sebagian atau
keseluruhan terhenti. Stroke iskemik ini dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
1.
Stroke Trombotik: proses
terbentuknya thrombus yang membuat penggumpalan.
2.
Stroke Embolik: Tertutupnya
pembuluh arteri oleh bekuan darah.
3.
Hipoperfusion Sistemik: Berkurangnya
aliran darah ke seluruh bagian tubuh karena adanya gangguan denyut jantung.
Stroke hemoragik adalah stroke
yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak. Stroke hemoragik ada 2
jenis, yaitu:
1.
Hemoragik Intraserebral: pendarahan
yang terjadi didalam jaringan otak.
2.
Hemoragik Subaraknoid: pendarahan
yang terjadi pada ruang subaraknoid (ruang sempit antara permukaan otak dan
lapisan jaringan yang menutupi otak).
B.
ETIOLOGI.
1.
Trombosis adalah bekuan darah di dalam pembuluh
darah otak Contohnya : Arteriosklerosis.
2.
Embolisme serebral adalah tertutupnya pembuluh
arteri oleh bekuan darah atau material lain (lemak, tumor) yang dibawa ke otak
dari bagian tubuh yang lain.
3.
Iskemia adalah penurunan aliran darah atau
kekurangan suplai oksigen yang menuju otak, Contohnya : karena konstriksi
ateroma pada arteri yang menyuplai darah ke otak.
4.
Hemoragi Serebral adalah pecahnya pembuluh
darah serebral dengan perdarahan kedalam jaringan otak atau ruang sekitar otak,
akibatnya adalah penghentian suplai darah ke otak, Contohnya : Hipertensi.
5.
Pecahnya pembuluh darah diotak karena kerapuhan
pembuluh darah otak, Contohnya : aneurisma.
C.
PATOFISIOLOGI
1.
Stroke non
hemoragik
Iskemia disebabkan oleh adanya penyumbatan aliran darah otak oleh
thrombus atau embolus. Trombus umumnya terjadi karena berkembangnya
aterosklerosis pada dinding pembuluh darah, sehingga arteri menjadi tersumbat,
aliran darah ke area thrombus menjadi berkurang, menyebabkan iskemia kemudian
menjadi kompleks iskemia akhirnya terjadi infark pada jaringan otak. Emboli
disebabkan oleh embolus yang berjalan menuju arteri serebral melalui arteri
karotis. Terjadinya blok pada arteri tersebut menyebabkan iskemia yang
tiba-tiba berkembang cepat dan terjadi gangguan neurologist fokal. Perdarahan
otak dapat ddisebabkan oleh pecahnya dinding pembuluh darah oleh emboli.
2.
Stroke
hemoragik
Pembuluh darah otak yang pecah menyebabkan darah mengalir ke
substansi atau ruangan subarachnoid yang menimbulkan perubahan komponen
intracranial yang seharusnya konstan. Adanya perubahan komponen intracranial
yang tidak dapat dikompensasi tubuh akan menimbulkan peningkatan TIK yang bila
berlanjut akan menyebabkan herniasi otak sehingga timbul kematian. Di samping
itu, darah yang mengalir ke substansi otak atau ruang subarachnoid dapat
menyebabkan edema, spasme pembuluh darah otak dan penekanan pada daerah
tersebut menimbulkan aliran darah berkurang atau tidak ada sehingga terjadi
nekrosis jaringan otak.
D.
MANIFESTASI KLINIS
1.
Kehilangan Motorik.
Disfungsi motor
paling umum adalah :
a.
Hemiplegia yaitu paralisis pada salah satu sisi
yang sama seperti pada wajah, lengan dan kaki (karena lesi pada hemisfer yang
berlawanan).
b.
Hemiparesis yaitu kelemahan pada salah satu
sisi tubuh yang sama seperti wajah, lengan, dan kaki (Karena lesi pada hemisfer
yang berlawanan).
2.
Kehilangan atau Defisit Sensori.
a. Parestesia
(terjadi pada sisi berlawanan dari lesi) Seperti kebas dan kesemutan pada
bagian tubuh dan kesulitan dalam propriosepsi (kemampuan untuk merasakan posisi
dan gerakan bagian tubuh).
b. Kesulitan dalam
menginterpretasikan stimuli visual, taktil dan auditorius.
3.
Kehilangan Komunikasi (Defisit Verbal).
Fungsi otak
lain yang dipengaruhi oleh stroke adalah bahasa dan komunikasi. Disfungsi
bahasa dan komunikasi dapat dimanifestasikan oleh hal berikut :
a. Disartria
adalah kesulitan berbicara atau kesulitan dalam membentuk kata. Ditunjukkan
dengan bicara yang sulit dimengerti yang disebabkan oleh paralisis otot yang
bertanggung jawab untuk menghasilkan bicara.
b. Disfasia atau
afasia adalah bicara detektif atau kehilangan bicara, yang terutama ekspresif
atau reseptif (mampu bicara tapi tidak masuk akal) .
c. Apraksia adalah
ketidak mampuan untuk melakukan tindakan yang dipelajari sebelumnya, seperti
terlihat ketika pasien mengambil sisir dan berusaha untuk menyisir rambutnya.
d. Disfagia adalah
kesulitan dalam menelan.
4.
Gangguan Persepsi.
Persepsi adalah
ketidakmampuan untuk menginterprestasikan sensasi.
Stroke dapat
mengakibatkan :
a.
Disfungsi persepsi visual, karena gangguan
jaras sensori primer diantara mata dan korteks visual.
b.
Homonimus hemianopsia (kehilangan setengah
lapang pandang)
c.
Gangguan hubungan visual-spasial (mendapatkan
hubungan dua atau lebih objek dalam area spasial).
5.
Defisit Kognitif.
a. Kehilangan
memori jangka pendek dan panjang.
b. Penurunan
lapang perhatian.
c. Kerusakan
kemampuan untuk berkonsentrasi.
d. Alasan abstrak
buruk.
e. Perubahan
Penilaian.
6.
Defisit Emosional.
a. Kehilangan
kontrol-diri.
b. Labilitas
emosional.
c. Penurunan
toleransi pada situasi yang menimbulkan stress.
d. Depresi.
e. Menarik diri.
f. Rasa takut, bermusuhan,
dan marah.
g. Perasaan
Isolasi.
E.
FAKTOR PENYEBAB STROKE
1.
Faktor Resiko Medis, antara lain Hipertensi
(penyakit tekanan darah tinggi), Kolesterol, Aterosklerosis (pengerasan
pembuluh darah), Gangguan jantung, DM, Riwayat stroke dalam keluarga.
2.
Faktor Resiko Perilaku, antara lain Merokok
(aktif & pasif), Makanan tidak sehat (junk food, fast food),
Alkohol, Kurang olahraga, Narkoba, Obesitas.
3.
Pemicu stroke pada dasarnya adalah, suasana
hati yang tidak nyaman (marah-marah), terlalu banyak minum alkohol, merokok dan
senang mengkonsumsi makanan yang berlemak.
F.
PENATALAKSANAAN
1.
Penatalaksanaan Stroke Hemoragik
a. Saran operasi
diikuti dengan pemeriksaan
b. Masukkan klien
ke unik perawatan saraf untuk dirawat di bagian bedah saraf
c. Penatalaksanaan
umum dibagian saraf
d. Penatalaksanaan
khusus pada kasus :
ü Subarachnoid
hemorrhage dan intraventricular hemorrhage,
ü Kombinasi
antara parechymatous dan subarchnoid hemorrhage,
ü Parenchymatous
hemorrhage.
e. Neurologis
1)
Pengawasan tekanan darah dan konsentrasinya
2)
Kontrol adanya edema yang dapat menyebabkan
kematian jaringan otak
f. Terapi
perdarahan dan perawatan pembuluh darah.
1)
Antifibrinolitik untuk meningkatkan
mikrosirkulasi dosis kecil.
ü Aminocaproic
ü Antagonis
(Gordox) untuk pencegahan permanen
2)
Natrii Etamsylate (Dynone)
3)
Kalsium mengandung obat ; Rutinium
4)
Profilaksis Vasospasme
g. Pemberian
Diuretik untuk menurunkan edema serebral, yang mencapai tingkat maksimum 3-5
hari setelah infark serebral.
Diuretik osmotik menurunkan tekanan
intrakranial dengan menaikkan osmolalitas serum sehingga cairan akan ditarik
keluar dari sel otak.
Manitol dapat digunakan dengan dosis 0,25-0,5 g/kgBB IV selama 20 menit, tiap 6 jam. Tidak dianjurkan menggunakan manitol untuk jangka panjang. Manitol diberikan bila osmolalitas serum tidak lebih dari 310 mOsm/ l. Furosemid 40 mg IV/hari dapat memperpanjang efek osmotik serum manitol.
Manitol dapat digunakan dengan dosis 0,25-0,5 g/kgBB IV selama 20 menit, tiap 6 jam. Tidak dianjurkan menggunakan manitol untuk jangka panjang. Manitol diberikan bila osmolalitas serum tidak lebih dari 310 mOsm/ l. Furosemid 40 mg IV/hari dapat memperpanjang efek osmotik serum manitol.
h. Antikoagulan
dapat diresepkan untuk mencegah terjadinya atau memberatnya thrombosis atau
embolisasi dari tempat lain dalam system kardiovaskular
i.
Medikasi anti-trombosit dapat diresepkan karena
trombosit memainkan peran sangat penting dalam pembentuka thrombus dan
embolisasi.
2.
Perawatan umum klien dengan serangan stroke
akut
a. Pengaturan
suhu, atur suhu ruangan menjadi 18-20oC
b. Pemantauan
(monitoring) keadaan umum klien (EKG, nadi, saturasi O2. PO2, PCO2)
c. Pengukuran suhu
tubuh tiap dua jam.
G.
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1.
Pemeriksaan Klinis
Melalui
anamnesis dan pengkajian fisik (neurologis):
a.
Riwayat penyakit sekarang (kapan timbulnya,
lamanya serangan, gejala yang timbul).
b.
Riwayat penyakit dahulu (hipertensi, jantung,
DM, disritmia, ginjal, pernah mengalami trauma kepala).
c.
Riwayat penyakit keluarga(hipertensi, jantung,
DM).
d.
Aktivitas (sulit beraktivitas, kehilangan
sensasi penglihatan, gangguan tonus otot, gangguan tingkat kesadaran).
e.
Sirkulasi (hipertensi, jantung, disritmia,
gagal ginjal kronis).
f.
Makanan/ cairan (nafsu makan berkurang, mual,
muntah pada fase akut, hilang sensasi pengecapan pada lidah, obesitas sebagai
faktor resiko).
g.
Neurosensorik (sinkop atau pingsan, vertigo,
sakit kepala, penglihatan berkurang atau ganda, hilang rasa sensorik
kotralateral, afasia motorik, reaksi pupil tidak sama).
h.
Kenyamanan (sakit kepala dengan intensitas yang
berbeda, tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketergantungan otot).
i.
Pernafasan (merokok sebagai faktor resiko,
tidak mampu menelankarena batuk).
j.
Interaksi social (masalah bicara, tidak mampu
berkomunikasi).
2.
Pemeriksaan Penunjang
a.
Angiografi Serebral.
Membantu
menentukan penyebab stroke secara spesifik misalnya pertahanan atau sumbatan
arteri.
b.
CT SCAN (Computerized Axial Tomografi)
adalah suatu
prosedur yang digunakan untuk mendapatkan gambaran
dari berbagai sudut kecil dari tulang
tengkorak dan otak.
c.
MRI (Magnetic Resonance Imaging)
Menunjukkan
daerah infark, perdarahan, malformasi arteriovena (MAV).
d.
USG Doppler (Ultrasonografi dopple)
Mengindentifikasi
penyakit arteriovena (masalah system arteri karotis(aliran darah atau timbulnya
plak) dan arteiosklerosis.
e.
EEG (elekroensefalogram)
Mengidentifikasi
masalah pada otak dan memperlihatkan daerah lesi yang spesifik.
f.
Sinar tengkorak.
Menggambarkan
perubahan kelenjar lempeng pienal daerah yang berlawanan dari massa yang
meluas, kalsifikasi karotis interna terdapat pada thrombosis serebral;
kalsifikasi persial dinding aneurisma pada perdarahan subarachnoid.
3.
Pemeriksaan Laboratorium
a.
Darah Rutin
b.
Gula Darah
c.
Urine Rutin
d.
Cairan Serebrospinal
e.
Analisa Gas Darah (AGD)
f.
Biokimia Darah
g.
Elektrolit
H.
KOMPLIKASI
a.
Gangguan otak yang berat
b.
Kematian bila tidak dapat mengontrol respons
pernafasan atau kardiovaskuler
c.
Edema Serebri dan Tekanan Intra cranial tinggi
yang dapat menyebabkan herniasi atau kompresi batang otak
d.
Aspirasi Atelektasis
e.
Gagal Nafas
f.
Disrithmia Jantung
g.
Kematian
BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN HEMIPARESIS
I.
BIODATA
A.
Identitas Pasien
Nama :
Ny. C
Jenis kelamin :
Perempuan
Umur :
32 thn
Status perkawinan : menikah
Tanggal masuk RS : 24-10-2014
Tanggal pengkajian
: 28-10-2014
No. register :
Ruang/kamar
: mawar
Diagnostic medis
: TB PARU +
HEMIPARESIS
II.
Keluhan Utama
Keluarga klien mengatakan ekstremitas kiri
klien tidak bisa digerakan dan lemas. terasa keram pada daerah tersebut, rasa
seperti kesemutan atau kebas pada bagian tubuh seblah kiri.
III.
Pemeriksaan Fisik
a.
Keadaan umum :
pasien tampak lemah
b.
Tingkat kesadaran : compos mentis
c.
Kebersihan :
pasien tampak kusam dan tidak rapih
d.
TB :
165 cm
e.
BB :
-
Tanda-tanda
vital
Suhu tubuh :
360C
TD : 110/70 mmHg
Nadi : 78 x/mnt
RR :
20x/mnt
Pola Kebiasaan
Sehari-hari
v Pola tidur dan
kebiasaan
Waktu tidur :
5 jam, malam kadang sulit tidur
Waktu bangun :
agak pusing
Masalah tidur :
ada
Pemeriksaan
neurologis
Status mental :
a.
Kondisi emosi / perasaan : cemas
b.
Orientasi : bingung
c.
Bahasa : Indonesia
Fungsi motorik
: Hemiplegia
Data lain-lain
:
ü keluarga klien
mengatakan klien tidak dapat mandi sendiri dan oral hygine sendiri
ü keluarga klien
mengatakan klien tidak dapat menggunakan pakaian sendiri.
ü keluarga klien mengatakan
klien tidak dapat menyisir rambut sendiri.
ü klien tampak
keterbatasan rentang gerak (tangan kanan terpasang infus)
IV.
Hasil Pemeriksaan Penunjang / Diagnotik
1. Diagnose Medis
Stroke hemmoragic + hipertensi
2.
Laboratorium
Creatini :
0,8 mg/dl
Cholesterol :
158 mg/dl
Uric acid :
5,1
Hemoglobin :
10,7 Gr %
Leukosit :
4.800/mm3
Eritrosit :
4,35 Jt/mm3
Hematokrit :
31,4 %
Trombosit :
225.000
V.
Terapy yang diberikan
Inj. Cedantron
1 amp
Inj. Piracepam
1 Gr
Inj. Ketorolac
1 amp
Inj. Ceftrixon
1 Gr
Infuse RL
KLASIFIKASI DATA
|
DS
|
DO
|
|
1.
Kelurga klien mengatakan Ektremitas kiri
klien tidak dapat digerakan dan lemas, rasa seperti kesemutan atau kebas pada
bagian tubuh seblah kiri,
2.
keluarga klien mengatakan klien tidak dapat
mandi sendiri dan oral hygine sendiri
3.
keluarga klien mengatakan klien tidak dapat
menggunakan pakaian sendiri.
4.
keluarga klien mengatakan klien tidak dapat
menyisir rambut sendiri.
|
1.
TTV :
TD : 110/70 mmHg
2.
klien tampak kusam dan tidak rapih
3.
klien tampak lemah lemah
4.
klien tampak keterbatasan rentang gerak
(tangan kanan terpasang infus)
|
ANALISA DATA
|
No
|
Data
|
Etiologi
|
Masalah
|
|
1
|
DS:
1. keluarga klien mengatakan klien sulit
bergerak dan kesemutan.
DO:
1.
Kelemahan
2.
keterbatasan rentang gerak (tangan kanan
terpasang infus)
|
Gangguan neurovaskuler
|
Hambatan mobilitas fisik
|
|
2
|
DS:
1. keluarga klien mengatakan klien tidak
dapat mandi sendiri dan oral hygine sendiri
2. keluarga klien mengatakan klien tidak
dapat menggunakan pakaian sendiri.
3. keluarga klien mengatakan klien tidak
dapat menyisir rambut sendiri.
DO:
1. klien tampak kusam dan tidak rapih
|
Keterbatasan aktivitas
|
Defisit perawatan diri
|
|
3
|
DS:
Keluarga Klien mengatakan badan klien atau
ekstremitas kiri tidak dapat digerakan
DO:
1.
hemiplegia
2.
TTV :
TD : 110/70 mmHg
|
Kelemahan fisik
|
Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer
|
B.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.
Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer b.d kelemahan
fisik (c.taylor:359-361, m.doengos:293)
2.
Hambatan mobilitas fisik b.d gangguan
neurovaskuler (c.taylor:303, m.doengos:295)
3.
Defisit perawatan diri b.d keterbatasan
aktivitas (c.taylor:49-50, m.doengos: 301)
C.
INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan
perfusi jaringan perifer b.d kelemahan fisik
Tujuan
: klien mampu menggerakkan ekstremitas kiri
Kriteria
hasil :
a. Klien
tidak terjatuh
b. Tidak
ada trauma dan komplikasi lain
Tindakan
:
1. I :
Pantau atau catat status neurologis sesering mungkin dan bandingkan dengan
keadaan normalnya atau standar.
R :
mengetahui kecenderungan tingkat kesedaran dan potensial TIK dan mengetahui
lokasi, luas, dan kemajuan atau resolisi kerusakan SSP.
2. I :
pertahankan keadaan tirah baring : ciptakan lingkungan yang tenang : batasi
pengunjung atau aktivitas pasien sesuai indikasi. Berikan istirahat secara
periodic antara aktivitas perawatan, batasi lamanya setiap prosedur.
R :
aktifitas atau stimulasi yang continue dapat meningkatkan TIK. Istirahat total
dan ketenangan diperlukan untuk pencegahan terhadap perdarahan dalam kasus
struk hemoragi atau perdarahan lainnya.
3. I :
pantau TTV seperti mencatat : adanya hipertensi/hipotensi, bandingkan tekanan
darah yang terbaca pada kedua lengan.
R :
variasi terjadi o/k tekanan atau trauma cerebral pada daerah vasomotor otak.
Hipertensi/hipotensi postural dapat menjadi factor pencetus. Hipotensi dapat
terjadi karena syok (colaps sirkulasi vaskuler). Peningkatan TIK dapat terjadi
(karena edema, adanya formasi bekuan darah).
4. I : kaji
fungsi-sungsi yang lebih tinggi, seperti fungsi bicara jika pasien sadar
R :
perubahan dalam isi kognitif dan bicara merupakan indicator dari lokasi atau
derajat gangguan cerebral dan mengidentifikasi penurunan atau peningkatan TIK.
5. I :
anjurkan untuk melakukan ambulasi pada tingkat yang dapat ditoleransi pasien.
R :
untuk meningkatkan sirkulasi pada ekstremitas.
6. I :
berikan anti koagulan, sesuai program.
R :
untuk mencegah thrombus. Thrombus dan embolus selanjutnya dapat menurunkan
sirkulasi arteri dan mengurangi perfusi jaringan pasien.
2. Gangguan mobilitas fisik b.d. kerusakan neuromuskuler.
Tujuan : Pasien
mendemonstrasikan mobilisasi aktif
Kriteria hasil :
a.
kontraksi otot
membaik
b.
mobilisasi
bertahap
Tindakan :
1.
I :
identifikasi tingkat fungsional dengan skala mobilisasi fungsional.
R : untuk
menunjang kontinuitas dan menjaga tingkat kemandirian yang teridentifikasi.
2.
I : Ubah posisi
minimal setiap 2 jam (telentang, miring).
R : menurunkan
resiko terjadinya trauma atau iskemia jaringan.
3.
I : pertahankan
kaki dalam posisi netral dengan gulungan/bantalan trocanter.
R : mencegah
rotasi eksternal pada pinggul.
4.
I : ajarkan
pasien dan anggota keluarga atau teman tentang latihan ROM, dan program
R : mobilitas
untuk membantu mempersiapkan pemulangan pasien.
5.
I :
konsultasikan dengan ahli fisioterapi secara aktif, latihan resistif, dan
ambulasi pasien.
R : program
yang khusus dapat dikembangkan untuk menemukan kebutuhan yang berarti atau
menjaga kekurangan tersebut dalam keseimbangan, kordinasi, dan kekuatan.
3.
Deficit perawatan diri b.d keterbatasan
aktivitas
Tujuan :
Kemampuan merawat diri meningkat
Kriteria
hasil :
a. mendemonstrasikan
perubahan pola hidup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari
b. Melakukan
perawatan diri sesuai kemampuan
c. Mengidentifikasi
dan memanfaatkan sumber bantuan
Tindakan
:
1. I :
lakukan program penanganan terhadap penyebab gangguan muskuloskeletas. Pantau
kemajuan, laporkan respon terhadap penanganan, baik respon yang diharapkan
maupun yang tidak diharapkan.
R :
penanganan harus dilakukan secara konsisten untuk mendorong kemandirian pasien.
2.
I : pantau pencapaian mandi dan hygiene setiap
hari. Tetapkan tujuan mandi dan hygiene. Hargai pencapaian mandi dan hygiene.
R : penguatan dan penghargaan akan mendorong pasien
untuk terus berusaha.
3.
I : sediakan alat bantu, seperti sikat gigi
bergagang panjang, untuk mandi dan perawatan hygiene : ajarkan penggunaanya.
R : alat bantu yang tepat akan meningkatkan
kemandirian.
4. I :
konsultasi dengan ahli fisioterapi atau ahli terapi okupasi.
R :
memberikan bantuan yang mantap untuk mengembangkan rencana terapi dan
mengidentifikasi kebutuhan alat penyokong khusus
D.
EVALUASI
1.
Pasien dapat
mendemonstrasikan mobilisasi aktif
2.
Klien sudah
mampuan merawat diri meningkat
3.
Klien sudah mampu
menggerakkan ekstremitas kiri
DAFTAR PUSTAKA
Marilynn
E. Doenges dkk:2012. Rancana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: EGC
Cynthia
M. taylor dkk: 2010. Diagnosa Keperawatan dengan Rencana Asuhan. Edisi 10.
Jakarta: EGC
http://cattycha.wordpress.com/2009/03/13/asuhan-keperawatan-dengan-pasien-stroke/ (diakses pada tgl 28 Oktober 2014)
http://kesehatan-isret.blogspot.com/2011/03/stroke.html (diakses pada tgl 28 Oktober 2014)